TRADISI PEMBACAAN ASMA’ AL-HUSNA DI MASJID I’TIKAF, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG (STUDI LIVING HADIS)

Authors

  • Muhammad Mundzir UIN Sunan Kalijaga

DOI:

https://doi.org/10.30631/tjd.v18i2.100

Keywords:

Asma' Al-Husna, Living Hadis, Tradisi, Masjid, I’tikaf

Abstract

This article discusses a phenomenon that has become a religious tradition in Pedurungan Kidul II, Semarang. The mosque, which was originally a place of worship, has become a place of religious ritual over time. People unconsciously have carried out a habit based on al-Qur’an and hadith, specifically reciting Asma’ al-Husna. The discourse of Asma’ al-Husna has been discussed by hadith scholars who state that the hadith about people who keep Asma’ al-Husna going to heaven indirectly has its own reception when it enters the social realm. The reception turned out to have a different meaning when it was carried out by the congregation of the mosque of I’tikaf Baitul Muhajirin. The recitation of Asma’ al-Husna in the mosque originated from a takmir’s desire to introduce and broadcast the reading of Asma’ al-Husna, as time went on the assembly became wasilah to pray, establish friendship, and the names contained in Asma’ al-Husna is a provision for life for the community. This article uses a phenomenological approach and functional theory as a tool to find the meaning contained in these assemblies.

 

Artikel ini mendiskusikan tentang sebuah fenomena yang menjadi tradisi keagamaan di Pedurungan Kidul II, Semarang. Masjid yang mulanya menjadi tempat ibadah, seiring berjalannya waktu menjadi tempat ritual keagamaan. Masyarakat secara tidak sadar telah melakukan sebuah kebiasaan berbasis Al-Qur’an dan hadis, yaitu pembacaan Asma’ al-Husna. Diskursus Asma’ al-Husna telah dibahas oleh para pensyarah hadis yang menyebutkan bahwa hadis tentang orang yang menjaga Asma’ al-Husna akan masuk surga secara tidak langsung memiliki resepsi tersendiri ketika telah masuk di ranah sosial. Resepsi tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda ketika dilakukan oleh Jemaah Masjid I’tikaf Baitul Muhajirin. Pembacaan Asma’ al-Husna di masjid tersebut berawal dari keinginan seorang takmir untuk mengenalkan dan mensyiarkan bacaan Asma’ al-Husna, seiring berjalannya waktu majelis tersebut menjadi wasilah untuk berdoa, menjalin silaturrahim, dan nama-nama yang terdapat di dalam Asma’ al-Husna menjadi bekal hidup bagi masyarakat. Artikel ini menggunakan pendekatan fenomenologi, dan teori fungsional sebagai alat untuk menemukan makna yang terkandung di majelis tersebut.

References

Ad-Dimisyqiy, Abu al-Fida’ Isma’il bin Katsir al-Qurasyi. Tafsir ibn Katsir. Beirut: Daar Ihya’ al-Turats al-Arabiy, 1985.
Aini, Adrika Fithrotul. “Living Hadis Dalam Tradisi Malam Kamis Majelis Shalawat Diba’ Bil-Mustofa.” Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies 2, no. 1 (30 Juni 2015): 159–72. https://doi.org/10.20859/jar.v2i1.35.
Ak-Qariy, ’Ali bin Muhammad Abu Al-Hasan Nur al-Din Al-Harwiy. Mirqat al-Matafih. Beirut: Daar al-Fikr, 1994.
Al-Alusiy, Mahmud bin Abdullah Al-Husainiy. Tafsir Al-Alusiy (Ruuh Al-Ma’aniy fi Tafsir Al-Qur’an Al-’Adzim wa Al-Sab’ Al-Matsaniy. Beirut: Daar Ihya’ al-Turats al-Arabiy, 1985.
Al-Asqalaniy, Abu al-Fadl Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Kunaniy. Fath-al-Bari Syarh Shahih al-Bukhariy. Beirut: Daar al-Fikr, 1993.
Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughiroh. Shahih Bukhari. Daar Ibn Katsir, 1993.
Al-Quzwainiy, Ibn Majah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Daar Ihya’ al-Turats al-Arabiy, t.t.
An-Nawawiy, Abu Zakariyya Mahyiddin Yahya bin Syarf. Al-Adzkar. Beirut: Daar al-Fikr, 1994.
At-Turmudziy, Abu Isa Muhammad bin Saurah. Sunan At-Turmudziy. Beirut: Daar al-Fikr, 1994.
“Badan Pusat Statistik Kota Semarang.” Diakses 10 Juni 2020. https://semarangkota.bps.go.id/dynamictable/2016/10/04/65/jumlah-pemeluk-agama-di-kota-semarang-2001--2018.html.
“Badan Pusat Statistik Kota Semarang.” Diakses 10 Juni 2020. https://semarangkota.bps.go.id/dynamictable/2015/04/21/2/jumlah-tempat-ibadah-di-kota-semarang-2008---2018.html.
Bima. Wawancara dengan Bima, 14 Juni 2020.
“Carihadis.com,” 2019. www.carihadis.com.
Edi. Wawancara dengan Pak Edi (Penjual Bakso Keliling), 14 Juni 2020.
F. O’dea, Thomas. Sosiologi Agama. Diterjemahkan oleh Tim Yasogama. Jakarta: Raja Drafindo Persada, 1996.
Febriyani, Fitri. “Peran Pembacaan Asmaul Husna dalam Pembelajaran Fiqih di Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.” UIN Sunan Ampel, 2018.
Ibu Sangkan. Wawancara dengan Bu Sangkan, 13 Juni 2020.
Julijanto. Wawancara dengan Pak Julijanto I, 13 Juni 2020.
———. Wawancara dengan Pak Julijanto II, 15 Juni 2020.
Jumadi. Wawancara dengan Jemaah Masjid I’tikaf Baitul Muhajirin, 13 Juni 2020.
“Kecamatan Pedurungan.” Diakses 10 Juni 2020. https://kecpedurungan.semarangkota.go.id/geografis-dan-penduduk.
Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an. Qur’an Kemenag. Jakarta: Kementrian Agama Indonesia, 2005.
Luthfi. Wawancara dengan Luthfi, 14 Juni 2020.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir. II. Surabaya: Pustaka Progresif, 2007.
“Pencipta Syair Asmaul Husna.” Diakses 12 Juni 2020. https://www.nu.or.id/post/read/47476/pencipta-syair-asmaul-husna.
Qudsy, Saifuddin Zuhri, dan Subkhani Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. I. Yogyakarta: Q-MEDIA, 2018.
R, Abd Rahman. “Memahami Esensi Asmaul Husna Dalam Alqur’an (Implementasinya Sebagai Ibadah Dalam Kehidupan).” Jurnal Adabiyah 11, no. 2 (26 Desember 2011): 150–65.
Shihab, M. Quraish. Menyingkap Tafsir Ilahi Asma’ al-Husna dalam Persepektif Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2000.

Downloads

Published

2020-12-21

How to Cite

Mundzir, M. (2020). TRADISI PEMBACAAN ASMA’ AL-HUSNA DI MASJID I’TIKAF, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG (STUDI LIVING HADIS). TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin, 18(2), 233–256. https://doi.org/10.30631/tjd.v18i2.100