INTEGRASI TEOLOGI ISLAM, SUFISME, DAN RASIONALISME HARUN NASUTION

Authors

  • Ermagusti UIN Imam Bonjol Padang
  • Syafrial UIN Imam Bonjol Padang
  • Rahmad Tri Hadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.30631/tjd.v21i1.237

Keywords:

harun nasution, integrasi, teologi islam, rasionalisme, sufisme

Abstract

This article describes the integration of Islamic theology, Sufism, and rationalism from Harun Nasution's Islamic thought. The more developed human life and way of thinking, the more advanced science and paradigm. Of course, one science and another will be interrelated and related. However, in current developments, scientific developments experience a dichotomy of scientific hegemony. The cause of this observation is to investigate the combination of technological know-how and any other in order that its miles were hoping that it will likely be greater complete, systematic, and comprehensive to observe Harun Nasution's Islamic thought. The study's approach used is a descriptive-analytical technique with bayani (observation/text analysis), irfani (intuitionism), and burhani (rationalism), also, data from articles, books, and various other research results in various literary magazines. The results of the study show that: First, bayani (text observation/analysis) emphasizes the authority of texts/nash (al-Qur'an and Hadith) and is justified by the instinct of concluding (istidlal). Thus, Islamic theology is the authority for textual on the role of reason in confirming matters related to matters of religiosity or human religiosity. Second, irfani (intuitionism; Sufism) emphasizes the knowledge obtained through the irradiation of the essence by God to His servant (kasyf) according to love-based spiritual training (riyadhah). Third, burhani (rationalism) is a means of confirmation of sources originating from texts, social and religious realities or beliefs, as well as intuitive or inner experiences. Thus, the three sources are integrated and have relevant values ​​to the life of modern Indonesian society.

 

Artikel ini menjelaskan tentang integrasi teologi Islam, sufisme, dan rasionalisme dari pemikiran Islam Harun Nasution. Semakin berkembangnya kehidupan dan cara berpikir manusia, maka semakin berkembang pula keilmuan dan paradigmanya. Tentu, antara satu ilmu dengan keilmuan lainnya akan saling berkaitan dan berhubungan. Namun, pada perkembangan saat ini, perkembangan keilmuan justru mengalami dikotomi atau hegemoni keilmuan. Tujuan penelitian ini menganalisis integrasi antara satu keilmuan dengan keilmuan lainnya, supaya diharapkan lebih utuh, sistematis dan komprehensif untuk meneropong pemikiran Islam Harun Nasution. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan bayani (observasi/analisis teks), irfani (intuisisme), dan burhani (rasionalisme), dan data diperoleh menurut aneka macam literatur artikel jurnal, buku, dan aneka macam output penelitian lainnya. Hasil penelitian mengambarkan bahwa: Pertama, bayani (observasi/analisis teks) yang menekankan dalam otoritas teks/nash (al-Qur’an dan hadis) dan dijustifikasi sang insting penarikan kesimpulan (istidlal). Maka, teologi Islam menjadi otoritas keterangan nash terhadap kiprah logika pikiran pada mengkonfirmasi hal-hal yang terkait menggunakan soal-soal keberagamaan atau religiusitas manusia. Kedua, irfani (intuisisme; sufisme) yang menekankan dalam pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat sang Tuhan pada hamba-Nya (kasyf) sesudah adanya olah ruhani (riyadhah) yang dilakukan atas dasar cinta. Ketiga, burhani (rasionalisme;) sebagai alat konfirmasi atas sumber yang berasal dari nash, realitas sosial dan keagamaan atau keyakinan, serta pengalaman intuitif atau batiniah. Sehingga, ketiga sumber tersebut saling terintegrasi satu sama lainnya, dan mempunyai nilai relevansi dengan kehidupan masyarakat modern Indonesia.

References

Abdurrahman, Muslim. Islam Transformatif. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Amir, Ahmad Nabil. “Pengaruh Rasionalisme Abduh Dalam Pemikiran Harun Nasution.” Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman 8, no. 1 (2020): 45–60.

Aprison, Wedra. “Mendamaikan Sains Dan Agama: Mempertimbangkan Teori Harun Nasution.” Jurnal Pendidikan Islam 4, no. 2 (2015): 241–59. https://doi.org/10.14421/jpi.2015.42.241-259.

Arifin, Muhammad. “Relevansi Dan Aktualisasi Teologi Dalam Kehidupan Sosial Menurut Harun Nasution.” Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 16, no. 5 (2014): 87–102. http://substantiajurnal.org.

Bammarny, Bawar. “The Caliphate State in Theory and Practice.” Arab Law Quarterly 31, no. 2 (2017): 163–86. https://doi.org/10.1163/15730255-12341339.

Chailani, Muchammad Iqbal. “Pemikiran Harun Nasution Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Di Era Modern.” Manazhim: Jurnal Manajemen Dan Ilmu Pendidikan 1, no. 2 (2019): 45–60. https://doi.org/10.36088/manazhim.v1i2.207.

Demichelis, Marco. “New-Muʿtazilite Theology in The Contemporary Age. The Relationship Between Reason, History and Tradition.” Oriente Moderno 90, no. 2 (2010): 411–26.

EL-Mawa, Mahrus. “Sejarah Pemikiran Islam Rasional Dalam Karya-Karya Harun Nasution (1919-1998).” Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan 2, no. 2 (2016): 138–52.

Ermagusti. Konsep Teologi Rasional, Telaah Kritis Terhadap Pemikiran Harun Nasution. Padang: IAIN IB-Press, 2000.

Firdaus, Sukma Umbara Tirta. “Pembaharuan Pendidikan Islam Ala Harun Nasution (Sebuah Refleksi Akan Kerinduan ‘Keemasan Islam’).” El-Furqania: Jurnal Ushuluddin Dan Ilmu-Ilmu Keislaman 5, no. 2 (2017): 166–84.

Furqan, and Arham Hikmawan. “Reason and Revelation According to Harun Nasution and Quraish Shihab and Its Relevance to Islam Education.” Al-Misbah: Jurnal Islamic Studies 9, no. 1 (2021): 17–30. https://doi.org/10.26555/al-misbah.v9i1.3890.

Hanafi, Ahmad. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2003.

Haron, Muhammed. “Review: Southeast Asia’s Muslim Intellectuals as Educational Reformers.” Islamic Studies 52, no. 2 (2013): 209–16.

Hidayat, Muhammad Husnol. “Harun Nasution Dan Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Islam.” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 10, no. 1 (2015): 23–38. https://doi.org/10.19105/jpi.v10i1.636.

Ibrahim. “Ajaran Islam Dalam Pandangan Harun Nasution.” Aqidah-Ta: Jurnal Ilmu Aqidah 5, no. 2 (2019): 131–42.

Jamal, Khairunnas. “Pemikiran Tafsir Harun Nasution (Studi Tentang Pola Penafsiran Al-Qur’an Dalam Karya Tulis).” Jurnal Ushuluddin 18, no. 1 (2012): 58–69.

Kau, Sofyan A.P. “Perkembangan Pemikiran Hukum Islam.” Al-Mizan 9, no. 1 (2013): 1–16.

Khoiruman. “Aspek Ibadah, Latihan Spritual Dan Ajaran Moral (Studi Pemikiran Harun Nasution Tentang Pokok-Pokok Ajaran Islam).” El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis 8, no. 1 (2019): 36–90. https://doi.org/10.29300/jpkth.v8i1.2046.

Lubis, Arbiyah. “Sunnatullah Dalam Pandangan Harun Nasution Dan Nurcholish Madjid.” Jurnal Ilmiah Islam Futura 11, no. 2 (2012): 1–15. https://doi.org/10.22373/jiif.v11i02.51.

Maghribi, Hamdan. “التوحيد عند المعتزلة الجدد: هارون ناسوتيون نموذجا.” Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam 14, no. 1 (2018): 179–206.

Muh. Subhan Ashari. “Teologi Islam Perspektif Harun Nasution.” AN NUR: Jurnal Studi Islam X, no. 1 (2020): 73–96. https://doi.org/10.37252/an-nur.v12i1.82.

Muslim. “Pemikiran Harun Nasution Tentang Pendidikan Di Perguruan Tinggi Agama Islam.” Jurnal Al-Nidzom 3, no. 2 (2019): 126–41. https://doi.org/10.47902/jan.v3i2.50.

Nasution, Harun. Akal Dan Wahyu Dalam Islam. Jakarta: UI-Press, 1986.

———. Falsafat Dan Mistisime Dalam Islam. 14th ed. Jakarta: Bulan Bintang, 2014.

———. Falsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 2014.

———. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek Jilid I. Jakarta: UI-Press, 2013.

———. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 1. Jakarta: UI-Press, 1985.

———. Islam Rasional; Gagasan Dan Pemikiran. Bandung: Mizan, 1996.

———. Muhammad Abduh Dan Teologi Rasional Muktazilah. Jakarta: UI-Press, 1987.

———. Teologi Islam; Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. 5th ed. Jakarta: UI Press, 1986.

Nurisman. Pemikiran Filsafat Islam Harun Nasution: Pengembangan Pemikiran Islam Di Indonesia. Yogyakarta: Teras, 2012.

Pink, Johanna. “‘Literal Meaning’ or ‘Correct Aqida’? The Reflection of Theological Controversy in Indonesian Qur’an Translations.” Journal of Qur’anic Studies 17, no. 3 (2015): 100–120. https://doi.org/10.3366/jqs.2015.0213.

Rizvi, Sajjad. “Review: Cosmopolitans and Heretics: New Muslim Intellectuals and the Study of Islam by Carool Kersten.” Middle Eastern Studies 48, no. 5 (2012): 834–38.

Saude. “Pemikiran Harun Nasution Tentang Mistisisme Dalam Islam.” Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2011.

Sholehuddin, M. Sugeng. “Reinventing Pendidikan Islam Harun Nasution.” Forum Tarbiyah 8, no. 1 (2010): 119–28.

Siregar, Parluhutan. “Integrasi Ilmu-Ilmu Keislaman Dalam Perspektif M. Amin Abdullah.” Miqot: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 38, no. 2 (2014): 335–54. https://doi.org/10.30821/miqot.v38i2.66.

Suminto, Aqib. Refleksi Pembaharuan Pemikiran Harun Nasution. Jakarta: CV. Guna Aksara, 1990.

Syakur, Abdus. “Polemik Harun Nasution Dan H.M. Rasjidi Dalam Mistisisme Islam.” Ulul Albab: Jurnal Studi Islam 19, no. 2 (2018): 343–63. https://doi.org/10.18860/ua.v19i2.5530.

Uchrowi, Zaim, and Ahmadie Thaha. “Menyeru Pemikiran Rasional Mu’tazilah.” In Refleksi Pembaharuan Pemikiran 70 Tahun Harun Nasution. Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), 1989.

Wirman, Eka Putra. “The Fallacies of Harun Nasution’s Thought of Theology.” Journal of Indonesian Islam 7, no. 2 (2013): 246–67. https://doi.org/10.15642/JIIS.2013.7.2.246-267.

Yanti, Depi. “Konsep Akal Dalam Perspektif Harun Nasution.” Intelektualita: Keislaman, Sosial Dan Sains 6, no. 1 (2017): 51–62. https://doi.org/10.19109/intelektualita.v6i1.1300.

Yulanda, Atika. “Epistemologi Keilmuan Integratif-Interkonektif M. Amin Abdullah Dan Implementasinya Dalam Keilmuan Islam.” Tajdid: Jurnal Ilmu Ushuluddin 18, no. 1 (2020): 79–104. https://doi.org/10.30631/tjd.v18i1.87.

Downloads

Published

2022-06-28

How to Cite

Ermagusti, Syafrial, & Rahmad Tri Hadi. (2022). INTEGRASI TEOLOGI ISLAM, SUFISME, DAN RASIONALISME HARUN NASUTION. TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin, 21(1), 180–208. https://doi.org/10.30631/tjd.v21i1.237